Oleh:
Ulin Niam
Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Indramayu
Ada kekeliruan yang sering kita lakukan ketika berbicara tentang generasi muda: kita terlalu sering menyebut mereka sebagai pemilik masa depan, seolah-olah hari ini mereka belum cukup penting untuk dilibatkan.
Padahal, pemuda bukan sekadar kelompok yang sedang menunggu giliran memimpin. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang saat ini sedang menghadapi persoalan pekerjaan, pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan perubahan teknologi.
Karena itu, memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 harus menjadi momentum untuk mengubah cara pandang terhadap generasi muda di Kabupaten Indramayu.
Pemuda tidak cukup hanya diberi motivasi. Mereka membutuhkan kesempatan.
Pemuda tidak cukup hanya diajak berdiskusi. Mereka membutuhkan ruang untuk mengambil keputusan.
Pemuda tidak cukup hanya diminta berkontribusi. Mereka juga membutuhkan dukungan agar kontribusinya menghasilkan perubahan nyata.
Inilah saatnya mengubah pendekatan pembangunan kepemudaan: dari sekadar mengumpulkan anak muda menjadi membangun kekuatan anak muda.
Pertama: Kemandirian Ekonomi Harus Menjadi Agenda Utama
Kita tidak bisa berbicara tentang kemajuan pemuda tanpa membicarakan kemandirian ekonomi.
Anak muda membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang layak, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Indramayu memiliki potensi ekonomi yang luas. Pertanian, perikanan, perdagangan, industri pengolahan, pariwisata, dan ekonomi digital dapat menjadi ruang tumbuh bagi wirausaha muda.
Namun, potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi program yang konkret.
Diperlukan pelatihan usaha yang sesuai kebutuhan pasar, pendampingan bisnis, penguatan pemasaran digital, akses pembiayaan yang bertanggung jawab, serta kemitraan antara pengusaha muda dan pelaku industri.
Kita ingin melihat lebih banyak anak muda desa yang mampu membangun usaha dari kampung halamannya sendiri.
Pemuda yang mandiri secara ekonomi akan memiliki ruang lebih luas untuk menentukan pilihan hidup, menjaga martabat, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Kedua: Pendidikan Harus Menghasilkan Kompetensi, Bukan Sekadar Ijazah
Pendidikan tetap menjadi jalan penting untuk meningkatkan kualitas hidup. Namun, tantangan zaman menuntut pendidikan yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan keterampilan nyata.
Generasi muda perlu menguasai literasi digital, komunikasi, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, serta keterampilan teknis sesuai bidangnya.
Sekolah, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan organisasi kepemudaan harus memperkuat kolaborasi agar anak muda lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja.
Kita tidak boleh membiarkan pemuda kehilangan kepercayaan diri hanya karena merasa tidak memiliki akses atau jaringan yang memadai.
Setiap anak muda, baik yang tinggal di pusat kota maupun pelosok desa, berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Bakat boleh berbeda, titik awal boleh tidak sama, tetapi kesempatan untuk maju harus terus diperjuangkan bersama.
Ketiga: Desa Harus Menjadi Ruang Pertumbuhan Generasi Muda
Pembangunan kepemudaan tidak boleh hanya berpusat di perkotaan.
Desa-desa di Indramayu memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan melalui kreativitas generasi muda.
Pemuda dapat mengambil peran dalam pengembangan pertanian modern, pengolahan hasil perikanan, pemasaran produk lokal, pariwisata berbasis budaya, hingga pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat.
Karena itu, pemerintah desa dan organisasi kepemudaan perlu membangun program yang sesuai dengan karakter serta potensi wilayah masing-masing.
Tujuannya bukan sekadar membuat pemuda tetap tinggal di desa, melainkan memastikan bahwa desa memiliki peluang yang layak untuk tumbuh sebagai ruang kehidupan dan pengembangan usaha.
Jangan sampai desa hanya menjadi tempat lahirnya anak muda, tetapi bukan tempat mereka menemukan kesempatan untuk berkembang.
Keempat: Organisasi Kepemudaan Harus Berani Berbenah
Organisasi kepemudaan merupakan ruang pembelajaran demokrasi, kepemimpinan, solidaritas, dan pengabdian.
Namun, organisasi tidak boleh merasa cukup hanya karena memiliki struktur, atribut, dan agenda rutin.
Organisasi harus berani mengevaluasi dampak kegiatannya.
Apakah kader semakin berkualitas? Apakah masyarakat merasakan manfaat? Apakah program organisasi menjawab kebutuhan generasi muda? Apakah kader memiliki kesempatan mengembangkan potensi dan kemandiriannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu menjadi bagian dari budaya evaluasi organisasi.
Bagi Gerakan Pemuda Ansor, kaderisasi harus menjadi proses pembentukan manusia yang memiliki integritas, kedalaman nilai keagamaan, wawasan kebangsaan, dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Kader Ansor harus mampu berdiri tegak dengan identitasnya, tetapi juga terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai kelompok demi kemaslahatan bersama.
Organisasi yang kuat bukan organisasi yang paling sering menyebut kebesarannya, melainkan organisasi yang keberadaannya benar-benar dirasakan manfaatnya.
Kelima: Pemuda Harus Menjadi Mitra Kritis Pemerintah
Hubungan antara pemerintah dan pemuda seharusnya dibangun di atas semangat kemitraan yang sehat.
Pemerintah membutuhkan gagasan, energi, dan kreativitas generasi muda. Sebaliknya, pemuda membutuhkan akses, dukungan, dan ruang partisipasi dalam pembangunan.
Kritik harus ditempatkan sebagai bagian dari demokrasi. Namun, kritik juga harus disampaikan secara bertanggung jawab, berbasis informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, dan diarahkan untuk memperbaiki keadaan.
Pemerintah pun perlu memastikan bahwa forum kepemudaan tidak berhenti sebagai ruang seremonial, tetapi menghasilkan gagasan yang dapat dipertimbangkan dalam kebijakan.
Kita membutuhkan mekanisme yang memungkinkan aspirasi pemuda ditampung, ditindaklanjuti, dan dievaluasi secara terbuka.
Pemuda tidak harus selalu sepakat dengan pemerintah untuk mencintai daerahnya. Terkadang, keberanian mengingatkan justru lahir dari kepedulian yang paling dalam.
Keenam: Persatuan Harus Melampaui Batas Organisasi
Indramayu memiliki beragam organisasi kepemudaan, komunitas, dan kelompok kreatif. Masing-masing memiliki sejarah, identitas, dan cara pengabdian yang berbeda.
Perbedaan itu tidak perlu dihapuskan.
Justru, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk membangun kolaborasi yang lebih luas.
Persoalan lapangan kerja, pendidikan, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu organisasi saja.
Karena itu, kita membutuhkan ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai kelompok pemuda berdasarkan agenda bersama.
Beda organisasi bukan alasan untuk saling menjauh. Beda gagasan bukan alasan untuk berhenti bekerja sama.
Inilah makna persatuan yang perlu terus dihidupkan dalam semangat Sumpah Pemuda.
Tujuh: Ukur Keberhasilan dari Dampak, Bukan Sekadar Kegiatan
Manifesto kepemudaan harus memiliki arah yang jelas.
Keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta, banyaknya acara, atau ramainya publikasi.
Kita perlu mulai mengukur dampak melalui indikator yang relevan, misalnya:
- Bertambahnya pemuda yang memperoleh keterampilan dan akses kerja.
- Berkembangnya usaha yang dirintis atau dikelola anak muda.
- Meningkatnya keterlibatan pemuda dalam pembangunan desa.
- Bertambahnya program kolaborasi lintas organisasi.
- Meningkatnya partisipasi pemuda dalam penyampaian aspirasi dan evaluasi kebijakan.
Indikator tersebut perlu disesuaikan dengan data awal, kapasitas pelaksana, dan target yang realistis.
Dengan cara ini, pembangunan kepemudaan dapat bergerak dari slogan menuju kerja yang terukur dan berkelanjutan.
Penutup: Saatnya Membuktikan Sumpah Pemuda dengan Kerja Nyata
Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa persatuan membutuhkan keberanian untuk melampaui kepentingan kelompok.
Sumpah Pemuda 2026 mengingatkan kita bahwa persatuan tersebut harus diteruskan melalui upaya meningkatkan kualitas manusia dan memperluas kesempatan bagi generasi penerus bangsa.
Bagi Kabupaten Indramayu, masa depan kepemudaan harus dibangun melalui kolaborasi, kemandirian ekonomi, pendidikan yang relevan, penguatan karakter, dan partisipasi yang bermakna.
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Organisasi kepemudaan tidak boleh berjalan sendiri. Dunia usaha dan lembaga pendidikan juga harus mengambil bagian.
Dan kita, sebagai generasi muda, tidak boleh hanya menunggu.
Sebagai Ketua PC GP Ansor Kabupaten Indramayu, saya memandang bahwa khidmat kepada agama, Nahdlatul Ulama, bangsa, dan negara harus diwujudkan melalui kerja yang nyata serta kebermanfaatan yang dapat dirasakan masyarakat.
Kita harus menjaga tradisi, memperkuat karakter, mengembangkan kompetensi, dan membuka jalan bagi lahirnya generasi muda yang mandiri.
Jangan wariskan kepada generasi berikutnya hanya cerita tentang kejayaan masa lalu. Wariskan kesempatan, keberanian, dan ekosistem yang memungkinkan mereka menciptakan kejayaan berikutnya.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026.
Pemuda Berdaya, Organisasi Bermakna, Indramayu Berjaya.
