Spread the love

bebarengan.id II Kamis 23 Juli 2026

Di tengah dinamika kehidupan modern, Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan sosok-sosok yang mampu menjembatani nilai-nilai tradisi dengan tuntutan zaman. Sosok itu hadir dalam diri H. Supendi Sami’an, SE., MM. Seorang kader Nahdlatul Ulama yang membuktikan bahwa profesionalisme, pendidikan, dan pengabdian kepada jam’iyah dapat berjalan beriringan.
Lahir di Kabupaten Indramayu pada 9 Januari 1972, H. Supendi Sami’an tumbuh dalam keluarga sederhana yang menjunjung tinggi kerja keras, kejujuran, dan nilai-nilai keagamaan. Ayahnya, H. Samian, dan ibundanya, Hj. Tursinah, menanamkan pendidikan karakter sejak usia dini. Kehidupan sebagai anak desa membentuknya menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, serta dekat dengan masyarakat. Sejak kecil ia telah terbiasa membantu orang tua berdagang, bergaul dengan petani, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial maupun olahraga. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk jiwa kepemimpinan yang kuat.

Menempa Diri dari Dunia Profesional
Perjalanan karier H. Supendi bukanlah jalan yang instan. Setelah merantau ke Tangerang dan bekerja di perusahaan ritel internasional, ia mengalami pahitnya krisis ekonomi 1998 yang membuatnya kehilangan pekerjaan. Namun, kegagalan tidak membuatnya berhenti. Justru dari titik itulah ia bangkit.
Ia kemudian membangun karier di dunia perbankan selama lebih dari lima belas tahun. Berbagai posisi strategis pernah diembannya, mulai dari Bank Nusamba, Bank Danamon, hingga Bank BTPN dengan jabatan terakhir sebagai Senior Manager. Pengalaman panjang tersebut membentuk dirinya sebagai seorang manajer yang disiplin, profesional, serta terbiasa membangun sistem kerja yang efektif dan akuntabel.

Ketika Amanah Kiai Menjadi Jalan Pengabdian
Bagi H. Supendi Sami’an, jabatan bukanlah tujuan, melainkan amanah. Ketika dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Nahdlatul Ulama (STIDKI NU) Indramayu pada tahun 2020, ia menerima tugas itu sebagai bentuk kepatuhan kepada para masyayikh.
Ia menyadari bahwa membangun perguruan tinggi NU bukan hanya soal mengelola kampus, tetapi juga menyiapkan masa depan kader-kader Nahdlatul Ulama.
Dengan bekal pengalaman manajemen modern, ia mulai melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari administrasi, tata kelola keuangan, penguatan sumber daya manusia, hingga membangun jejaring kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan.
Di bawah kepemimpinannya, STIDKI NU berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi NU yang memiliki tata kelola administrasi yang baik, memperluas kemitraan nasional maupun internasional, serta terus meningkatkan kualitas akademik. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi NU harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam akhlak dan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah.

Khidmah Tanpa Henti untuk Nahdlatul Ulama
Pengabdian H. Supendi Sami’an kepada NU tidak dimulai ketika menjadi Ketua STIDKI NU. Sejak lama ia telah aktif dalam berbagai jenjang kepengurusan Nahdlatul Ulama.
Ia pernah mengemban amanah sebagai pengurus MWC NU, kemudian menjadi pengurus PCNU Kabupaten Indramayu selama beberapa periode, termasuk sebagai Wakil Ketua. Pengabdiannya terus berlanjut hingga dipercaya menjadi bagian dari kepengurusan PWNU Jawa Barat periode sekarang. Selain itu, ia aktif membina organisasi, yayasan pendidikan, serta berbagai forum strategis yang memperkuat peran NU di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.

Pendidikan sebagai Jalan Kebangkitan Nahdliyin
Salah satu gagasan besarnya adalah menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama kebangkitan warga Nahdliyin. Baginya, NU akan semakin kuat apabila setiap ranting memiliki kader-kader terdidik yang mampu menjadi penggerak masyarakat.
Karena itu ia terus mendorong lahirnya berbagai program beasiswa dan kaderisasi, termasuk gagasan “Satu Ranting NU, Satu Sarjana”, agar semakin banyak kader NU memperoleh akses pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Program tersebut menjadi simbol bahwa investasi terbesar NU adalah investasi pada sumber daya manusia.
Memadukan Tradisi dan Profesionalisme
Keistimewaan H. Supendi Sami’an terletak pada kemampuannya memadukan dua dunia yang sering dianggap berbeda. Di satu sisi ia adalah seorang profesional dengan pengalaman panjang di dunia korporasi dan manajemen modern.
Di sisi lain ia tetap menjunjung tinggi adab kepada para kiai, menghormati tradisi pesantren, serta menjadikan nilai khidmah sebagai fondasi kepemimpinannya. Ia meyakini bahwa profesionalisme tidak boleh menghilangkan keberkahan, dan keberkahan akan semakin sempurna apabila dibarengi dengan tata kelola yang baik.
Sosok yang Menginspirasi
Bagi warga Nahdliyin Indramayu, H. Supendi Sami’an memberikan pelajaran penting bahwa kader NU harus mampu hadir di mana saja: di dunia pendidikan, ekonomi, organisasi, maupun ruang-ruang pengabdian sosial. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa kesuksesan bukan hanya diukur dari jabatan yang diraih, melainkan dari manfaat yang dirasakan umat.
Dari anak desa, menjadi bankir, akademisi, pemimpin perguruan tinggi, hingga penggerak organisasi, seluruh perjalanan itu berpuncak pada satu tujuan: mengabdi kepada Nahdlatul Ulama dan membangun generasi yang berilmu, berakhlak, serta berdaya saing.
Sebagaimana prinsip yang senantiasa tercermin dalam kiprahnya, pengabdian bukanlah tentang menjadi yang paling dikenal, melainkan menjadi pribadi yang paling bermanfaat. Itulah jejak langkah H. Supendi Sami’an seorang Nahdliyin yang menapaki jalan khidmah dengan ilmu, amanah, dan keteladanan.

Oleh: Ulin niam (Ketua PC GP Ansor Indramayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *