Spread the love

Uinniam
Generasi Muda NU Kabupaten Indramayu

Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, telah selesai. Forum tertinggi NU tersebut menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. Hasil tersebut tentu harus dihormati sebagai keputusan organisasi. Namun bagi generasi muda NU, Muktamar tidak berhenti pada persoalan siapa yang terpilih. Justru setelah Muktamar selesai, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan dilakukan NU dalam lima tahun ke depan?
Pertanyaan ini sederhana, tetapi penting. Sebab NU memiliki warga yang besar, jaringan pesantren yang luas, lembaga pendidikan, badan otonom, lembaga sosial, serta kader yang tersebar di berbagai bidang. Potensi tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

Menjaga Tradisi, Menjawab Perubahan
Tema Muktamar ke-35, “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa,” sangat relevan dengan situasi NU hari ini. Menjaga marwah berarti menjaga kepercayaan warga, tradisi keilmuan, akhlak, serta integritas organisasi. Sementara memperkaya khidmah berarti memperluas manfaat NU sesuai kebutuhan masyarakat. Generasi muda hidup dalam perubahan yang cepat. Teknologi berkembang, kecerdasan buatan mulai memengaruhi dunia kerja, media sosial mengubah cara berkomunikasi, sementara tantangan pendidikan dan ekonomi juga semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, NU tidak harus berubah menjadi organisasi lain. NU justru perlu memperkuat jati dirinya sambil menemukan cara baru untuk menjalankan khidmah.

Tradisi tetap menjadi akar, tetapi inovasi menjadi cara untuk tumbuh.
Anak Muda Jangan Hanya Menjadi Penonton
Salah satu hal yang menarik dari Muktamar ke-35 adalah munculnya dorongan agar anak muda dilibatkan dalam penyusunan dan pelaksanaan program NU. Dalam Sidang Komisi Program Muktamar, keterlibatan generasi muda disebut penting karena mereka akan menjadi penentu keberlanjutan NU dan memiliki kebutuhan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Bagi generasi muda, gagasan tersebut perlu diapresiasi sekaligus ditindaklanjuti. Anak muda NU selama ini sebenarnya sudah banyak bergerak. Ada yang aktif di IPNU, IPPNU, GP Ansor, Fatayat NU, PMII, Pagar Nusa, Sarbumusi, pondok pesantren, perguruan tinggi, komunitas profesional, dunia usaha, media, hingga berbagai ruang digital.
Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar tambahan kegiatan untuk anak muda. Yang lebih penting adalah ruang untuk berkontribusi dan mengambil tanggung jawab. Regenerasi tidak cukup dengan mengganti orang yang lebih tua dengan orang yang lebih muda. Regenerasi adalah proses memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya untuk belajar, bekerja, memimpin, sekaligus menyumbangkan gagasan. Karena itu, generasi muda berharap kaderisasi NU lima tahun ke depan semakin terbuka, terarah, dan berbasis kompetensi.

NU Harus Hadir di Ruang yang Dihuni Anak Muda
Anak muda hari ini banyak menghabiskan waktunya di ruang digital. Karena itu, kehadiran NU di dunia digital menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan. Namun digitalisasi NU jangan hanya dimaknai sebagai memperbanyak unggahan di media sosial. NU perlu membangun kemampuan kader dalam literasi digital, teknologi, media, dan kecerdasan buatan. Anak muda NU harus diberi kesempatan menjadi pengelola sekaligus pencipta konten, teknologi, dan narasi keislaman yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kita membutuhkan dakwah yang tetap berakar pada tradisi Aswaja, tetapi mampu berbicara dengan bahasa generasi sekarang. Jika NU tidak hadir di ruang tersebut, ruang itu akan diisi oleh berbagai narasi lain yang belum tentu sesuai dengan nilai keislaman dan kebangsaan yang selama ini diperjuangkan NU.

Pesantren dan Pendidikan Harus Menjadi Prioritas
NU memiliki kekuatan besar berupa pesantren dan lembaga pendidikan. Kekuatan ini harus terus dikembangkan. Pesantren tidak hanya perlu memperkuat penguasaan ilmu agama, tetapi juga perlu memberi ruang lebih luas bagi sains, teknologi, bahasa asing, kewirausahaan, penelitian, dan keterampilan masa depan. Modernisasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, teknologi dan ilmu pengetahuan dapat digunakan untuk memperkuat tradisi keilmuan pesantren. Harapannya, santri tetap kuat dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga mampu menjadi profesional, pengusaha, akademisi, peneliti, teknolog, maupun pemimpin di berbagai bidang.

Ekonomi Warga Juga Harus Menjadi Perhatian
Generasi muda NU juga menunggu langkah yang lebih konkret dalam bidang ekonomi. Banyak anak muda NU yang menjadi pelaku UMKM, pengusaha, pekerja profesional, petani, nelayan, pekerja kreatif, dan berbagai profesi lainnya. Mereka membutuhkan akses terhadap pengetahuan, teknologi, pasar, permodalan, dan jejaring. NU memiliki jaringan warga yang sangat besar. Jika jaringan tersebut dikelola dengan baik, ia dapat menjadi kekuatan ekonomi yang saling mendukung. Karena itu, program ekonomi NU sebaiknya tidak hanya berhenti pada kegiatan pelatihan. Harus ada keberlanjutan, pendampingan, akses pasar, dan penguatan jejaring usaha.

NU Tetap Perlu Mandiri dan Kritis
Keputusan Muktamar mengenai mekanisme kepemimpinan dan penguatan tata kelola organisasi juga penting dibaca sebagai upaya menjaga arah NU. Dalam Sidang Pleno III, Muktamar menyepakati mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Bagi generasi muda, yang terpenting setelah keputusan dibuat adalah bagaimana seluruh proses organisasi dapat membangun kepercayaan warga. NU tetap perlu hadir dalam kehidupan kebangsaan. Tetapi NU juga harus memiliki sikap yang mandiri dan mampu menyampaikan pandangan secara proporsional ketika terdapat persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Kedekatan dengan pemerintah tidak harus berarti kehilangan sikap kritis. Begitu pula sikap kritis tidak harus berarti selalu berseberangan. Yang dibutuhkan adalah politik kebangsaan yang berpijak pada kemaslahatan.

Setelah Muktamar, Jangan Terlalu Lama Berhenti di Internal
Muktamar telah selesai. Kepengurusan baru sedang dipersiapkan, dan tim formatur telah mulai bekerja menyusun struktur PBNU periode 2026–2031. Ini waktunya energi organisasi kembali diarahkan kepada masyarakat. Generasi muda berharap lima tahun ke depan NU dapat memperkuat setidaknya lima hal: kaderisasi anak muda, pendidikan dan pesantren, transformasi digital, pemberdayaan ekonomi, serta pelayanan sosial. Kelima bidang tersebut sangat dekat dengan kehidupan generasi muda dan kebutuhan masyarakat hari ini.

Kami Tidak Ingin Menggantikan Generasi Sebelumnya
Generasi muda NU tidak sedang meminta agar generasi sebelumnya disingkirkan. Kami justru membutuhkan pengalaman para kiai, ulama, senior, dan para pendahulu sebagai pijakan.
Yang kami harapkan adalah adanya ruang untuk belajar dan bekerja bersama. Generasi tua memiliki pengalaman. Generasi muda memiliki energi dan perspektif baru. Jika keduanya dapat berjalan bersama, NU akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar. Karena itu, regenerasi seharusnya tidak dibangun dengan logika “yang muda menggantikan yang tua”, tetapi “yang tua membimbing, yang muda melanjutkan dan mengembangkan.”

Muktamar Selesai, Khidmah Dimulai
Pada akhirnya, generasi muda NU tidak terlalu membutuhkan banyak slogan.
Kami membutuhkan program yang jelas.
Kami membutuhkan kesempatan.
Kami membutuhkan pendidikan yang baik.
Kami membutuhkan ruang untuk berkembang.
Dan yang paling penting, kami ingin melihat NU semakin dekat dengan persoalan nyata masyarakat.
Muktamar ke-35 telah menghasilkan kepemimpinan baru. Kini tugas berikutnya adalah memastikan keputusan Muktamar tidak berhenti di forum Jombang. Dari Jombang, NU harus bergerak ke pesantren-pesantren, sekolah, kampus, tempat kerja, desa, komunitas, ruang digital, dan berbagai tempat di mana warga NU menjalani kehidupan sehari-hari. Bagi kami, ukuran keberhasilan NU lima tahun ke depan bukan hanya seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaatnya dirasakan warga.

Gus Kikin dan jajaran PBNU 2026–2031 memiliki kesempatan untuk membawa NU semakin dekat dengan kebutuhan zaman.
Generasi muda siap mengambil bagian.
Bukan untuk meninggalkan tradisi.
Bukan pula untuk menggantikan generasi sebelumnya.
Tetapi untuk melanjutkan khidmah dengan cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Muktamar telah selesai. Kepemimpinan telah ditetapkan. Sekarang saatnya NU bekerja dan membuktikan khidmahnya. Karena pada akhirnya, yang akan menentukan masa depan NU bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi seberapa banyak generasi yang mau ikut bergerak dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada umat dan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *