Setiap tanggal 30 September, kita kembali diingatkan pada salah satu episode kelam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 bukan sekadar catatan dalam buku sejarah, tetapi bagian dari perjalanan bangsa yang semestinya menjadi ruang untuk belajar, mengambil hikmah, dan menjaga agar konflik serta perpecahan tidak kembali menjadi luka bagi kehidupan kebangsaan.
Bagi kami sebagai gerakan pemuda, mengenang sejarah bukan berarti terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Justru sebaliknya, sejarah harus menjadi cermin untuk melihat bagaimana kita menjalani kehidupan hari ini dan menentukan masa depan.
Para pendahulu bangsa telah memberikan banyak pengorbanan untuk menjaga keutuhan Indonesia. Karena itu, generasi muda hari ini memiliki bentuk perjuangan yang berbeda. Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan tenaga, keberanian dan pengorbanan fisik, maka perjuangan pemuda hari ini adalah bagaimana menjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi, politik identitas, intoleransi, hoaks, polarisasi media sosial, narkoba, pengangguran, serta berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks.
Di Indramayu, persoalan kepemudaan juga tidak bisa kita lihat secara sederhana. Kita memiliki anak-anak muda yang luar biasa di bidang pendidikan, pertanian, perikanan, industri, kewirausahaan, seni, teknologi, maupun organisasi. Tetapi di sisi lain, masih ada tantangan yang harus kita jawab bersama: bagaimana memastikan anak muda memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang layak, bagaimana mencegah mereka terjebak dalam narkoba dan kekerasan, bagaimana membangun budaya literasi digital, serta bagaimana menghadirkan ruang yang sehat bagi anak muda untuk berorganisasi dan mengembangkan potensinya.
Maka, refleksi G30S bagi pemuda Indramayu hari ini bukan hanya tentang siapa yang salah dan siapa yang benar dalam membaca masa lalu. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengambil pelajaran bahwa bangsa yang kehilangan persatuan akan sangat mudah mengalami konflik dan perpecahan.
Jangan sampai sejarah hanya menjadi bahan perdebatan di media sosial, sementara kita kehilangan kepedulian terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat di sekitar kita.
Pemuda jangan hanya menjadi penonton perubahan, apalagi menjadi korban dari perubahan. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi.
Sebagai gerakan kepemudaan, kita harus berani mengatakan bahwa ideologi kebangsaan, Pancasila, persatuan Indonesia dan nilai-nilai kemanusiaan harus dijaga dengan cara yang relevan dengan zaman. Bukan hanya melalui slogan, tetapi melalui tindakan: membangun toleransi, menghargai perbedaan, aktif dalam organisasi, meningkatkan kapasitas diri, melawan berita bohong, menjaga lingkungan, membantu masyarakat, dan menciptakan kegiatan produktif bagi generasi muda.
Kita juga perlu mengajarkan sejarah kepada generasi muda dengan cara yang dewasa. Sejarah tidak boleh dipakai untuk mewariskan kebencian antargenerasi. Sejarah harus menjadi guru yang membuat kita lebih bijaksana, agar kesalahan dan tragedi masa lalu tidak kembali terjadi dalam bentuk yang berbeda.
Karena itu, momentum 30 September hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua: kemerdekaan dan keutuhan bangsa bukan hadiah yang datang begitu saja. Ada pengorbanan, ada air mata, ada perjuangan, dan ada tanggung jawab yang harus diteruskan.
Tugas kita sebagai pemuda hari ini bukan mengulang perjuangan generasi terdahulu dengan cara yang sama. Tugas kita adalah meneruskan nilai perjuangan mereka dengan cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Kalau dulu mereka berjuang mempertahankan negeri dari ancaman yang nyata, maka hari ini kita harus berjuang agar generasi muda tidak kehilangan masa depan.
Kalau dulu persatuan dipertahankan dengan keberanian, maka hari ini persatuan harus kita rawat dengan kedewasaan.
Dan kalau dulu bangsa ini belajar dari sebuah tragedi, maka jangan sampai generasi kita mengulangi tragedi yang sama hanya karena kita gagal belajar dari sejarah.
Dari Indramayu, mari kita bangun pemuda yang berakar pada sejarah, kuat dalam nilai, terbuka terhadap perubahan, kritis dalam berpikir, santun dalam bersikap, dan nyata dalam pengabdian.
Sebab mencintai bangsa bukan hanya dengan mengingat masa lalunya, tetapi juga dengan memastikan masa depannya berada di tangan generasi muda yang berkarakter dan bertanggung jawab.
Selamat berefleksi. Mari rawat persatuan, kuatkan kebangsaan, dan jadikan sejarah sebagai bekal untuk melangkah ke masa depan.
Oleh:
Ulinniam
Ketua PC GP Ansor Indramayu
