bebarengan.id II 6 Oktober 2026
Menjelang lima abad, pertanyaan terbesar bagi generasi muda Indramayu bukan lagi sekadar apakah mereka siap menghadapi perubahan zaman, tetapi apakah mereka siap menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan arah perubahan tersebut.
Ketua PC Ansor Indramayu Gus Ulinniam menegaskan, momentum Hari Jadi Indramayu ke-499 harus menjadi ruang refleksi bersama, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, usia hampir lima abad harus diikuti dengan keberanian untuk melakukan pembaruan.
“Kita jangan hanya bangga karena Indramayu sudah berusia 499 tahun. Yang jauh lebih penting adalah apa yang kita lakukan menjelang usia 500 tahun. Jangan sampai kita hanya mewarisi sejarah, tetapi tidak mampu menambahkan catatan sejarah baru. Pemuda harus hadir sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar penonton sejarah.”
Ia menilai, tantangan generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perubahan teknologi, persaingan dunia kerja, perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan pola industri, hingga derasnya arus informasi membuat pemuda harus memiliki kemampuan beradaptasi yang jauh lebih kuat.
“Anak muda hari ini tidak boleh merasa cukup hanya dengan ijazah. Ijazah penting, tetapi dunia kerja membutuhkan kemampuan nyata (baik softskill ataupun hardskill). Karena itu, pemuda harus terus belajar, meningkatkan keterampilan, membangun jejaring, dan berani mencoba. Jangan menunggu keadaan berubah untuk kemudian bergerak. Kita harus bergerak agar keadaan ikut berubah.”
Menurutnya, pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, organisasi kepemudaan, pesantren, komunitas, dan masyarakat perlu duduk bersama membicarakan masa depan pemuda Indramayu.
Ia mendorong agar pembangunan kepemudaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
“Saya kira kita harus mengubah cara pandang. Program kepemudaan jangan hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari berapa banyak anak muda yang setelah mengikuti kegiatan menjadi lebih terampil, lebih mandiri, lebih produktif, dan lebih bermanfaat bagi lingkungannya.”
Dunia Kerja Berubah, Pemuda Harus Berubah
Persoalan dunia kerja menjadi salah satu tantangan yang mendapat perhatian serius.
Menurut Ketua PC Ansor Indramayu, pemerintah dan pemangku kepentingan harus memperkuat hubungan antara dunia pendidikan, pelatihan, dan kebutuhan lapangan kerja.
“Jangan sampai dunia pendidikan berjalan sendiri, sementara dunia industri membutuhkan keterampilan yang berbeda. Harus ada jembatan yang kuat. Anak-anak muda perlu tahu keterampilan apa yang dibutuhkan, bagaimana peluangnya, dan bagaimana mempersiapkan diri sejak sekarang.”
Namun ia juga mengingatkan bahwa pemuda tidak boleh sepenuhnya menggantungkan masa depan pada lowongan pekerjaan.
“Kita harus mengubah mentalitas dari job seeker menjadi job creator. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha, tetapi setiap anak muda harus memiliki mental pencipta peluang. Kalau belum bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain, setidaknya jangan takut menciptakan pekerjaan untuk dirinya sendiri.”
Menurutnya, potensi Indramayu justru dapat menjadi modal besar untuk membangun kemandirian ekonomi generasi muda.
Pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, industri, kuliner, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga sektor digital dapat menjadi ruang tumbuh bagi pemuda.
“Saya tidak ingin anak muda Indramayu hanya menjadi konsumen dari produk luar. Kita punya petani, nelayan, pelaku UMKM, pengrajin, seniman, dan banyak potensi lokal. Tugas generasi muda adalah membuat potensi itu naik kelas, masuk ke pasar yang lebih luas, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat Indramayu.”
Jangan Tinggalkan Desa, Bangun dari Potensi Lokal
Ia juga menyoroti pentingnya perubahan cara pandang terhadap desa.
Menurutnya, desa tidak boleh hanya dilihat sebagai tempat tinggal yang ditinggalkan ketika seseorang ingin mencari masa depan.
“Kita perlu mengubah persepsi bahwa sukses itu harus pergi dari Indramayu. Pergi untuk belajar dan mencari pengalaman tentu baik. Tetapi setelah memiliki ilmu dan jaringan, kalau bisa kembali dan membangun daerah, itu jauh lebih berarti.”
Ia membayangkan munculnya generasi petani muda yang menguasai teknologi, nelayan muda yang mampu mengembangkan bisnis hasil laut, pengusaha muda yang mengangkat produk lokal, serta anak muda desa yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan ekonomi masyarakat.
“Kalau satu desa memiliki sepuluh anak muda yang kreatif dan mau bergerak, saya yakin wajah desa itu bisa berubah. Karena itu, jangan remehkan anak muda desa. Berikan mereka akses, kepercayaan, pelatihan, dan ruang untuk berkreasi.”
Ansor dan Organisasi Pemuda Harus Berani Mengambil Peran
Sebagai Ketua PC Ansor Indramayu, ia menegaskan bahwa organisasi kepemudaan juga harus melakukan introspeksi.
Organisasi pemuda tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul dan menjalankan agenda rutin. Organisasi harus menjadi tempat lahirnya kader yang mampu menjawab persoalan masyarakat.
“Saya ingin organisasi kepemudaan menjadi sekolah kehidupan. Di dalamnya anak muda belajar memimpin, belajar menyelesaikan masalah, belajar berdiskusi, belajar menghargai perbedaan, belajar mengelola kegiatan, bahkan belajar bagaimana membangun ekonomi. Kalau organisasi hanya membuat acara lalu selesai, kita kehilangan fungsi strategisnya.”
Menurutnya, kaderisasi harus menghasilkan pemuda yang memiliki tiga modal utama: kapasitas, karakter, dan kepedulian.
Kapasitas membuat pemuda mampu bersaing. Karakter membuat pemuda memiliki integritas. Sedangkan kepedulian membuat kemampuan tersebut tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
“Kita tidak sedang mencari generasi yang hanya pintar bicara. Kita membutuhkan generasi yang ketika melihat masalah berani turun tangan. Ketika melihat peluang berani mengambil kesempatan. Dan ketika masyarakat membutuhkan, mereka hadir.”
Melawan Krisis Arah Generasi Muda
Selain persoalan pekerjaan, ia menilai tantangan terbesar generasi muda adalah kehilangan arah.
Kemajuan teknologi memberikan begitu banyak pilihan, tetapi sekaligus membuat anak muda mudah terpengaruh oleh tren dan standar keberhasilan yang dibentuk media sosial.
“Jangan sampai ukuran keberhasilan kita ditentukan oleh jumlah pengikut, jumlah tayangan, atau apa yang sedang viral. Hidup kita jauh lebih besar daripada angka-angka di media sosial. Ukuran keberhasilan pemuda adalah seberapa besar ia mampu mengembangkan dirinya dan seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain.”
Ia mengajak pemuda untuk menjadikan ruang digital sebagai sarana produktif.
Media sosial, menurutnya, dapat digunakan untuk belajar, berdagang, membangun jejaring, mempromosikan potensi daerah, menyampaikan gagasan, dan menggerakkan kegiatan sosial.
“Teknologi jangan kita lawan. Kita harus menguasainya. Tetapi jangan sampai teknologi yang mengendalikan hidup kita. Kitalah yang harus menentukan arah, teknologi hanya alat.”
REANG Harus Menjadi Karakter Pemuda
Dalam membangun masa depan Indramayu, Ketua PC Ansor menilai semangat **REANG—Religius, Ekonomi Kerakyatan, Aman, Nyaman dan Gotong Royong—**harus diterjemahkan ke dalam perilaku nyata.
“Bagi saya, REANG bukan sekadar akronim. REANG harus menjadi karakter. Religius berarti anak muda punya nilai dan akhlak. Ekonomi kerakyatan berarti kita ikut menguatkan ekonomi masyarakat. Aman dan nyaman berarti kita ikut menjaga lingkungan sosial. Gotong royong berarti kita sadar bahwa tidak ada persoalan yang bisa diselesaikan sendirian.”
Ia menekankan bahwa nilai religius harus menjadi fondasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Pemuda boleh modern, tetapi tidak kehilangan etika. Boleh menguasai teknologi, tetapi tetap menghormati orang tua. Boleh memiliki cita-cita tinggi, tetapi tidak melupakan masyarakat di sekitarnya.
“Kita ingin pemuda yang modern tanpa tercerabut dari akar budayanya. Kita ingin pemuda yang maju tetapi tetap punya adab. Kita ingin pemuda yang kompetitif tetapi tidak kehilangan solidaritas.”
Lima Abad Harus Menjadi Titik Lompatan
Memasuki usia 499 tahun, ia berharap satu tahun menuju lima abad tidak hanya dipenuhi dengan kegiatan perayaan, tetapi menjadi masa konsolidasi seluruh elemen masyarakat untuk mempersiapkan masa depan.
“Saya berharap menuju lima abad ini kita tidak hanya sibuk membuat acara, tetapi juga sibuk menyiapkan generasi. Mari kita bicara tentang sekolah, keterampilan, lapangan kerja, kewirausahaan, pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, teknologi, lingkungan, dan karakter anak muda. Itulah yang menurut saya jauh lebih penting untuk masa depan Indramayu.”
Ia juga menyerukan agar pemuda diberikan ruang yang lebih besar untuk menyampaikan gagasan.
“Jangan hanya panggil pemuda ketika membutuhkan massa atau ketika ada acara. Panggil pemuda ketika sedang membicarakan masa depan. Dengarkan gagasannya. Berikan ruang untuk bekerja. Kalau ada kesalahan, dibina. Kalau ada ide yang baik, didukung. Karena masa depan yang sedang kita bicarakan hari ini adalah masa depan yang nantinya akan mereka jalani.”
Menurutnya, pemuda harus siap menjadi bagian dari solusi.
“Saya tidak ingin pemuda hanya menjadi generasi yang pandai mengkritik. Kritik itu penting, tetapi setelah kritik harus ada gagasan, setelah gagasan harus ada gerakan, dan setelah gerakan harus ada hasil. Itulah bentuk tanggung jawab kita sebagai generasi muda.”
Mengukir Sejarah Baru
Bagi Ketua PC Ansor Indramayu, Hari Jadi ke-499 harus menjadi pengingat bahwa sejarah tidak berhenti pada masa lalu.
Sejarah terus bergerak dan generasi hari ini sedang menentukan bagian berikutnya.
“Kita menghormati para pendahulu dengan cara meneruskan perjuangannya. Kita tidak cukup hanya menceritakan apa yang sudah mereka lakukan. Kita juga harus mampu mengatakan kepada generasi setelah kita: inilah yang kami kerjakan ketika Indramayu memasuki usia 499 menuju lima abad.”
Karena itu, ia mengajak seluruh pemuda Indramayu untuk tidak takut mengambil peran.
“Mari kita berhenti merasa bahwa kita terlalu muda untuk berbuat sesuatu. Justru karena kita muda, kita punya energi, waktu, dan kesempatan untuk mencoba. Kalau gagal, belajar. Kalau jatuh, bangkit. Kalau berhasil, jangan lupa mengajak yang lain.”
Baginya, Indramayu Berjaya bukan sebuah kalimat yang selesai diucapkan. Ia harus menjadi kerja panjang lintas generasi.
“Indramayu Berjaya tidak akan lahir dari satu orang, satu kelompok, atau satu generasi. Ia akan lahir dari kerja bersama. Pemerintah punya tanggung jawab, masyarakat punya tanggung jawab, dunia usaha punya tanggung jawab, dan pemuda juga punya tanggung jawab.”
Ia pun menutup pandangannya dengan sebuah pesan bagi generasi muda Indramayu.
“Kita boleh lahir di zaman yang berbeda dengan para pendahulu kita, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama: membuat kehidupan setelah kita menjadi lebih baik. Lima abad adalah momentum. Mari kita pastikan generasi muda tidak hanya menjadi pewaris Indramayu, tetapi menjadi generasi yang ikut menentukan masa depan Indramayu.”
Sebab, pada akhirnya, usia 499 tahun bukan hanya tentang panjangnya perjalanan.
Ia adalah pertanyaan tentang kualitas langkah berikutnya.
Dan menuju lima abad, langkah itu harus diisi dengan keberanian, kompetensi, akhlak, kemandirian, dan gotong royong.
Mengukir sejarah. Menyongsong lima abad. Indramayu Berjaya.
