Spread the love

bebarengan.id II Kamis 22 Januari 2026

“Jangan berpikir nanti dapat apa,
tapi bagaimana kita berpikir sudah memberi apa?”

Di Ansor, berkhidmat bukan soal hitung-hitungan.
Bukan tentang apa yang akan diterima, apalagi tentang pujian. Khidmat adalah soal kesiapan memberi, bahkan ketika tidak ada yang melihat dan tidak ada yang mencatat.
Ikhlas di lingkungan Ansor bukan berarti pasrah tanpa sikap. Ikhlas justru lahir dari kesadaran penuh: bahwa apa yang dikerjakan adalah bagian dari tanggung jawab moral kepada jam’iyah, kepada ulama, dan kepada umat.
Banyak tugas Ansor dan Banser yang berjalan dalam sunyi. Menjaga pengajian, mengatur lalu lintas, berdiri di bawah hujan, atau sekadar memastikan acara selesai tanpa keributan. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada panggung. Yang ada hanya keyakinan bahwa tugas harus dituntaskan.
Di situlah makna kalimat itu hidup.
Bukan “apa yang akan aku dapatkan”,
tetapi “apa yang sudah aku berikan hari ini”.
Khidmat mengajarkan kita untuk menahan diri dari rasa ingin dihargai. Sebab di Ansor, nilai seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia bicara, tetapi dari seberapa lama ia bertahan mengabdi.
Ikhlas juga berarti siap lelah tanpa banyak keluhan. Siap terluka tanpa merasa paling berjasa. Dan siap dilupakan, tanpa berhenti berbuat.
Itulah sebabnya khidmat di Ansor bukan jalan singkat. Ia panjang, kadang berat, dan sering kali tidak adil. Tapi justru di sanalah karakter kader ditempa—menjadi pribadi yang bekerja, bukan sekadar menuntut.
Pada akhirnya, khidmat bukan tentang hasil yang terlihat.
Ia tentang proses membentuk diri.
Ketika seseorang datang ke Ansor dengan niat memberi, bukan meminta, di situlah jam’iyah ini tetap hidup. Dan selama masih ada kader yang berpikir “apa yang bisa aku lakukan”, bukan “apa yang bisa aku dapatkan”, maka khidmat akan terus berjalan—tenang, sederhana, dan penuh makna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *